Waktu terus bergulir tanpa menghiraukan aku
dia terus berlalu tanpa menunggu aku yang sedang kelelahan
dalam hati ku berbisik, tunggu… jangan pergi dulu….
aku sedang mengumpulkan kekuatan untuk menapaki jalan lagi
tetapi dia tidak mengindahkanku.
Seluruh kekuatan sudah terkuras, untuk terus mencoba bertahan
menahan nafsu dan ujian yang tiada hentinya sepanjang perjalanan
lelah, letih, bosan, jenuh,
tapi aku harus terus berjalan
Untuk amanah yang Engkau berikan
Untuk waktu yang telah Engkau sediakan
Jangan pernah menyerah untuk keadaan
Walaupun hati ini sudah semakin lelah dan kecewa
Bukan karena doaku yang belum terkabulkan
tapi karena lelah dengan kedustaan orang-orang disepanjang jalan
Jangan pernah ada kata putus asa
Perjalanan ini hanya sebentar
akan aku temui perkampungan yang tidak ada kedustaan di dalamnya
teruslah melangkah dan teruslah berharap
karena yang Kuasa tidak pernah memejamkan matanya..
Created by. Ellis Ermawati
Ibu pernah memintaku membersihkan lantai sesaat setelah aku menumpahkan bubur saat sarapan pagi. Tapi, bukan sapu atau kain lap pel yang kuambil ke belakang, karena aku malah berlari keluar melalaui pintu belakang untuk menyusul teman-teman bermain. Hal yang hampir sama juga kulakukan, saat ibu berharap aku menyapu halaman bekas aku dan teman-teman bermain dan mengotori halaman dengan sobekan kertas. Meski beberapa teman melirikkan matanya agar aku segera menuruti ibu, tapi yang kulakukan justru tak menggubris perintahnya dan selekas mungkin mengajak teman-teman bermain di tempat lain.
Pernah satu kali, ibu memanggilku saat aku belajar. Dengan alasan “sedang belajar” aku tak mengindahkan panggilannya, meski entah sudah hitungan keberapa namaku disebutnya. Dan jika, dalam kondisi tak sabar setelah berkali-kali aku tak juga menyahut, ibu menghampiri ke kamarku, segera aku berpura-pura tertidur dengan buku yang masih dalam dekapan. Itu kulakukan, karena aku malas keluar rumah untuk membelikan barang belanjaan ibu di warung depan gang yang hanya berjarak tidak lebih 20 meter.
Diwaktu lain, ibu berpesan agar aku segera pulang setelah pulang sekolah. Namun seperti biasa, aku selalu mampir ke tempat-tempat biasa aku bermain, dan mengatakan kepada ibu bahwa terlalu banyak aktifitas di sekolah yang harus aku ikuti, demi memperkaya pengalaman dan ketrampilan. Sesekali, aku juga mengelabui ibu dengan tuntutan uang ini-itu dari sekolah yang wajib dibayar selain uang SPP. Kupikir, mungkin ibuku bodoh sehingga selalu mempercayai setiap permintaan uang tersebut yang sesungguhnya selalu kugunakan untuk mentraktir teman-temanku, sekedar untuk menunjukkan kelas sosial dan ‘sogokan’ agar aku bisa diterima oleh teman-teman. Meski setelah itu kuketahui, bahwa tidak jarang ibu berhutang untuk menutupi semua ‘biaya’ itu berharap agar aku bisa menjadi anak yang cerdas, trampil dan bisa diandalkan, aku masih tetap tak menyesal.
Read more…