Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.
Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak lalu kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, maka akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul kedua orangtua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya.
Read more…
Sikap menentukan sukses atau tidaknya kita. Menurut manajemen IBM kualitas manusia ditentukan oleh 90 persen sikapnya (attitude) dalam menghadapi masalah. Sedangkan sisanya 10 persen ditentukan oleh kemampuan ilmunya (knowledge). Artinya, kesuksesan itu seringkali diawali dari sikap hidup yang benar dan tepat dalam menghadapi suatu peristiwa.
Bukan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Bukan karena kita ditakdirkan bernasib jelek, tapi bagaimana kita menggunakan segala potensi terbaik yang dimiliki untuk merespon suatu kondisi yang buruk menjadi lebih baik.
Jadi jika saat ini kita masih dalam keadaan kekurangan harta, ilmu, atau apapun, maka tidak cukup dengan hanya meratapi dan menyesalinya, selamanya hal itu tidak akan mengubah nasib. Namun, ketika kita menyikapinya dengan terus menerus memikirkan peluang yang bisa dikerjakan dan terus menerus sekuat tenaga memperbaiki diri, maka kita akan mampu mengubah keadaannya. Jika nasi sudah jadi bubur, ya kita tambahkan kacang, kerupuk, bawang goreng dan ayam goreng. Maka bubur nasi bisa kita ubah menjadi bubur ayam yang nikmat. Jika terlanjur basah, ya sudah ambil sabun, sampo lalu kita mandi, biar bersih sekalian. Jadi sekali lagi bukan keadaan yang buruk yang harus disesali, tetapi bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi keadaan yang baik.
Read more…